Islam Liberal Anjuran Barat Bhg 1
Prolog
Sudah menjadi kebiasaan Barat, mereka sengaja menciptakan bermacam-macam istilah dan terminologi untuk meletakkan Dunia Islam dalam aneka perangkap. Mereka, misalnya, menciptakan berbagai istilah (dictation): Islam tradisional-modern, Islam moderate-fundamentalis, Islam legalistik/formalistik-subtantif normatif, Islam kultural-struktural, dan Islam inklusif-eksklusif dll.
Barat juga sengaja melontarkan beragam istilah dan pemikiran dengan trend politik mahupun ideologi. Semua itu dimaksudkan untuk meragukan keyakinan umat terhadap pemikiran Islam serta melakukan permainan istilah yang berbahaya; semata-mata kerana ketakutan melihat revivalisme (kebangkitan) umat melalui ideologi Islam. Mereka memunculkan pemikiran nasionalisme, demokrasi, pluralisme politik, hak asasi manusia, kebebasan, globalisasi, dan sebagainya; termasuk dalam hal ini adalah apa yang dikenal dengan istilah yang sangat asing (absurd): “Islam Liberal”.
Charles Kurzman, profesor sosiologi agama di Universiti North Carolina, memperkenalkan istilah atau gerakan baru di Dunia Islam ini dalam bukunya, Islamic Liberalism (telah diterjemahkan oleh Penerbit Paramadina-Jakarta dan diberi judul Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam Terkini (Contemporary) tentang Isu-isu Global). Sebenarnya, Kurzman bukan orang pertama, kerana sebelumnya telah muncul Leonard Binder yang cuba menyebarkan fahaman tersebut dalam bukunya, Islamic Liberalism: A Critique of Development Ideologies.
Islam Liberal: Anak Kandung Barat
Islam Liberal dianggap sebagai suatu tindakbalas tulen (authentic response) Islam dewasa ini—dengan mencuba mengambil khazanah terbaik dari masa lalu dan menghidupkannya kembali pada persoalan kekinian— dalam mengungkapkan (apprise) gagasan-gagasan terbaik liberalisme Barat. Tema-tema umum yang dicakup dalam Islam Liberal mencakupi masalah politik-kenegaraan, demokrasi, hak-hak perempuan(persamaan taraf), hak-hak non-Muslim (pluralisme), kebebasan berfikir (freedom of thought), dan gagasan tentang kemajuan (modenisasi). Pandangan tokoh-tokoh seperti Ali Bula (Turki), Mohammad Talbi (Tunisia), Humayun Kabir (India), Syed Vahiduddin (India), Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid (Indonesia), Abdul-Karim Soroush (Iran), Farid Esack (Afrika Selatan), Hassan Hanafi (Mesir), Amina Wadud-Muhsin (Amerika Serikat), Abdullahi an-Na`im (Sudan), Mehdi Bazargan (Iran), Muhammad Arkoun (Aljazair-Perancis), Ali Shari`ati (Iran), dan Fatima Mernissi (Maroko) diposisikan sebagai pandangan yang mewakili tindakbalas tulen Islam atas isu-isu kontemporari.
Islam Liberal yang dimaksudkan intelektual Barat, pada akhirnya lebih merupakan penarikan kesimpulan—yang dihasilkan melalui kajian/telaah pemikiran para pemikir atau tokoh-tokoh Muslim dari Dunia Islam tersebut—daripada mencuba menggali dan menelusuri sendiri pemikiran tersebut.
Kurzman menyatakan tiga gagasan mengenai Islam liberal (hal ini barangkali boleh dijadikan asas/simbol umum normal (mainstream) dari aliran tersebut),yakni:
(1) Syariah liberal, “liberal shari’a” argues that the revelations of the Quran and the practices of the Prophet command Muslims to follow liberal positions;
(2) Syariat diam, the “silent shari`a,”holds that coexistence is not required by the shari`a, but is allowed. This trope argues that the shari`a is silent on certain topics-not because divine revelation was incomplete or faulty, but because the revelation intentionally left certain issues for humans to choose;
(3) Penafsiran syariat (interpreted shari’a), this third trope suggests that religious diversity is inevitable, not just among religious communities but within Islam itself
Secara ringkas, “mazhab” Islam Liberal ini sebenarnya berakar pada idea demokrasi. Pemikiran-pemikiran lain sebagai asal-usulnya (derive) akan terlihat sangat bertumpu di atas fahaman demokrasi ini; seperti gagasan pemisahan negara dengan agama, hak-hak wanita dalam kepemimpinan politik dan kekuasaan, kebebasan penafsiran teks-teks agama, kebebasan berfikir dan berpendapat, toleransi beragama, dialog dan keterbukaan antara agama, pluralisme, demokrasi religious, dll.
Pemikiran mengenai hubungan negara dengan agama (Islam) merupakan persoalan kritikal yang paling banyak mendapat penolakan dan tantangan dari pendokong Islam Liberal. Pemahaman yang sering dipakai:
(1) Negara Islam tak pernah dikenal dalam sejarah;
(2) Negara adalah kehidupan duniawi, berdimensi rasional, dan kolektif; sedangkan agama berdimensi spiritual dan peribadi;
(3) Masalah kenegaraan tidak menjadi sebahagian hubungkait (integral) dari Islam;
(4) Islam tidak menggariskan konsep asas pemerintahan (definitive), misalnya dalam bab kekuasaan;
(5) Rasulullah SAW hanya menjadi penyampai risalah, tidak mengepalai suatu institusi politik;
(6) Al Quran dan Sunnah tidak pernah menyebut, “Dirikanlah negara Islam!” dan sebagainya.
Penolakan gagasan ini, pada akhirnya menerima secara total atas idea demokrasi dalam urusan kekuasaan, politik, dan pemerintahan. Hasilnya, menolak kebolehan seorang wanita terlibat dalam urusan kekuasaan adalah bertentangan dengan prinsip demokrasi. Menolak keterlibatan warga negara berdasarkan perbezaan prinsip agama adalah tidak sesuai dengan demokrasi. “Memasung” fikiran dan pendapat bertentangan dengan hak kebebasan dan demokrasi. Mengambil peraturan dan hukum-hukum kemasyarakatan dari satu agama saja (baca: Islam) merupakan diskriminasi atas agama lain, yang bererti sama sahaja dengan tidak demokratik. Kebebasan dan kebolehan beragamanya dengan menafsirkan teks-teks agama (dalil-dalil) menjadi imbas dari gagasan liberalisasi dan kebebasan berfikir serta berpendapat. Demikianlah, semua pemikiran asal ini akan berlindung di balik induknya: pemikiran barat.